Rabu, 04 Januari 2023

APAKAH BAYI KEGUGURAN HARUS DISHALATKAN DAN DIMANDIKAN?


Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb. Mohon ijin bertanya ustadz, bagaimana hukumnya orang yg ke guguran, masih 4 bulan, apakah harus dikafani dan dikuburkan seperti biasa nya mayit apa tidak?. Mohon penjelasan nya dan referensinya.


Iskandar, Sukabumi

HP: 0857-1054-2424


---------------------------------------------------------------------------

(download makalah lengkap)

Jawab:

Waalaikum salam Wr. Wb.

بسم الله الرحمن الرحيم والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين.

Semoga kita semua senantiasa berada di dalam lindungan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan rahmat-Nya.

Para ulama telah membahas mengenai ketentuan bayi yang lahir meninggal atau keguguran berdasarkan hadits-hadits yang ada. Berkaitan dengan pertanyaan anda kiranya kami akan mengutip penjelasan dari Syaikh Al-Hishni Ad-Dimasyqi (w. 829 H) dalam kitab Kifayah Al-Akhyar di dalam menjelaskan apa yang termaktub dalam Matan Taqrib kaya Abi Syuja’ Al-Asfihani (w. 500 H) sebagai berikut:


وَاثْنَانِ لَا يُغَسَّلَانِ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِمَا: الشَّهِيْدُ فِيْ مَعْرَكَةِ الْكُفَّارِ، وَالسِّقْطُ الَّذِيْ لَمْ يَسْتَهِلَّ وَيُصَلَّى عَلَيْهِ إِنِ اخْتَلَجَ. (متن تقريب لأبي شجاع الأصفهانى)

Artinya:

Dua orang yang tidak dimandikan dan tidak dishalati atas keduanya: (1) orang yang mati syahid di dalam medan perang orang-orang kafir; (2) bayi yang mati keguguran yang tidak menjerit. Dan dishalati atasnya jika ia bergerak (mis: menggigil). (Matan Taqrib Abi Syuja’ Al-Asfihani)


Penjelasan Ad-Dimasyqi atas masalah bayi keguguran adalah sebagai berikut:

وأما السقط فله حالتان: الأوْلَى أَن يَسْتَهِلَّ أَيْ يَرْفَعُ صَوته بالبكاء، أو لم يستهل، ولكن شرب اللبن أو نظر أو تحرك حركة كبيرة تدل على الحياة، ثم مات فإنه يغسل ويصلى عليه بلا خلاف لأنا تيقنا حياته، وفي الحديث "إذا استهل الصبي ورِثَ وصُلِّيَ عليه" رواه النسائي، وصححه ابن حبان والحاكم وقال: إنه على شرط الشيخين لكن قال النووي في شرح المهذب: إنه ضعيف نعم قال ابن المنذر: إن الإجماع منعقد على الصلاة على مثل هذا وعلى تغسيله، وفي دعوى الإجماع شيء بالنسبة إلى الصلاة. الحالة الثانية أن لا يتيقن حياته بأن لا يستهل ولا ينظر ولا يمتص ونحوه فينظر إن عري عن أمارة الحياة كالاختلاج ونحوه، فينظر أيضا، إن لم يبلغ حدا ينفخ فيه الروح وهو أربعة أشهر فصاعدا لم يصلى عليه بلا خلاف في الروضة، ولا يغسل على المذهب لأن الغسل أخف من الصلاة، ولهذا يغسل الذمي ولا يصلى عليه وإن بلغ أربعة أشهر، قولان الأظهر أنه أيضا لا يصلى عليه لكن يغسل على المذهب، وأما إذا اختلج أو تحرك فيصلى عليه على الأظهر ويغسل على المذهب. واعلم أن ما لم تظهر فيه خلقة آدمي يكفي فيه المواراة كيف كان وبعد ظهور خلقة الآدمي حكم التكفين حكم الغسل والله أعلم. (كفاية الأخيار للدمشقي)

Artinya:

Adapun bayi yang keguguran maka (dalam ketentuannya) ada 2 (dua) kondisi: Pertama: bayi menjerit, yakni mengeluarkan suaranya dengan menangis, atau tidak menjerit, tapi meminum air susu atau dapat melihat, atau bergerak dengan gerakan yang jelas yang menunjukkan kehidupan, kamudian mati, maka ia dimandikan dan dishalati dengan tanpa perbedaan pendapat, karena akita yakin akan kehidupannya. Dan di dalam hadits dikatakan: “Jika bayi menjerit maka ia berhak mendapat warisan dan dishalatkan atasnya.” (Riwayat An-Nasa’i), dan disahihkan oleh Ibn Hibban dan Hakim, dan ia berkata: ‘bahwasanya hadits tersebut (shahih) berdasarkan syarat-syarat Bukhari-Muslim akan tetapi An-Nawawi berkata di dalam Syarah Muhadzab: bahwasanya (hadits tersebut) dla’if. Ya benar Ibn Al-Mundzir berkata: bahwasanya Ijma’ terikat atas keputusan kewajiban shalat dan mandi pada kasus-kasus semacam ini. Dan di dalam hasil ijma’ ada sesuatu hal berkaitan dengan shalat. Kedua: bahwasanya ia (si bayi) tidak tidak diyakini kehidupannya, dengan (tidak adanya tanda-tanda seperti) menjerit, tidak melihat, tidak merangkak, dan sebagainya. Dalam hal ini maka perlu dilihat: jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti bergerak dan sebagainya, maka dilihat pula, jika tidak sampai pada batas-batas ditiupkannya roh, yakni umur 4 (empat) bulan lebih (kehamilan), maka tidak dishalati atasnya tanpa ada perbedaan pendapat di dalam kitab Ar-Raudlah, dan tidak dimandikan menurut pendapat madzhab, karena memandikan lebih ringan dari pada menshalati, dan karenanya orang kafir dzimmiy dimandikan, dan tidak dishalati atasnya. Jika telah mencapai 4 (empat) bulan, maka ada dua pendapat. Pendapat yang lebih jelas: bahwasanya ia juga tidak dishalati, akan tetapi dimandikan, berdasarkan pendapat madzhab (syafi’i). Adapun jika menggigil atau bergerak maka dishalati atasnya menurut pendapat yang lebih jelas, dan dimandikan berdasarkan pendapat madzhab. Dan ketahuilah bahwasanya selama tidak ada kejelasan di dalamnya bentuk kejadian manusia, maka cukup di dalamnya ditanamkan (dikuburkan) sebagaimana adanya. Dan setelah jelas kejadian manusia, maka berlaku hukum kafan, hukum mandi atasnya. Wallahu a’lam. (Kifayatul Akhyar Ad-Dimasyqi)

Berdasarkan apa yang dijelaskan Ad-Dimasyqiy di atas, kita dapat mengambil beberapa point berkaitan dengan pertanyaan anda. Yakni sebagai berikut:

Hukum bayi keguguran:

  • Pertama: Jika bayi menjerit (ada tanda-tanda kehidupan) maka ia dimandikan dan dishalati (sepakat para ulama) >> berdasarkan Hadits riwayat An-Nasa’i
  • Kedua: jika tidak diyakini ada tanda-tanda kehidupan, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
    • jika belum berumur 4 (empat) bulan lebih umur kehamilan (dengan kata lain belum mencapai umur kehamilan di mana ditiupkan roh kepadanya, maka tidak tidak dishalati dan tidak dimandikan.
    • Jika telah mencapai 4 (empat) bulan, maka terdapat 2 (dua) pendapat:
      • Pendapat pertama mengatakan: Ia tidak dishalati tapi dimandikan.
      • Jika terlihat menggigil atau bergerak maka dishalati dan dimandikan

Demikian semoga dapat membantu memberikan pemahaman. Wa billaihi At-Taufiq.

Wasalamualaikum wr. wb.


R. Ahmad Nur Kholis 

E-mail: kholis3186@gmail.com

HP: 081335557124


Tidak ada komentar:

Posting Komentar