Dalam kajian filsafat ilmu pendidikan, secara ontologis, definisi pendidikan diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) ranah. Pendidikan dalam arti yang sempit dimaknai sebagai proses dalam dunia persekolahan (schooling). Pendidikan dalam makna yang sangat luas, dimaknai sebagai keseluruhan proses dalam kehidupan setiap individu. Di sisi lain sebagai sintesa, makna pendidikan yang luas-terbatas, dimaknai sebagai proses pembelajaran di sekolah yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, dan mengeksplor semua yang ada dalam lingkungannya.
Demikian halnya dalam belajar dan pembelajaran, juga diklasifikasikan secara koheren sebagaimana pendidikan. Manusia dalam arti belajar yang sempit, ia dapat dikatakan belajar dalam dunia persekolahan. Dalam arti yang sangat luas, ia dapat dikatakan belajar dari kehidupan yang ia alami dan terus berlangsung sepanjang hayat. Begitu pula dalam pengertian yang luas terbatas, belajar dan pembelajaran bagi seseorang adalah ketika mampu menerapkan ke dalam praktik dan sikap hidup sehari-hari akan apa yang ia pelajari dari sekolah.
Di samping itu, hal lain yang perlu dipahami adalah proses dan hasil belajar antar individu manusia juga ada perbedaan dan tidak paralel. Dalam arti bahwa tidak semua orang yang baik dan cepat dalam belajar di dunia sekolahnya mampu belajar dan menjadi dewasa dalam peran hidupnya di masyarakat secara baik pula. Ada kalanya, seseorang cepat belajar di sekolah tapi sulit dalam pelajaran kehidupannya. Demikian pula sebaliknya.
Pencapaian individu dalam hal ini bersifat kontinum, dan bersifat interval. Dalam arti capaian antar individu dalam belajar dari sekolah maupun kehidupan adalah berbeda-beda. Ada seseorang yang senantiasa cermat dalam pelajaran matematika di sekolah, tapi lambat dalam merespon dan mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya. Dan juga sebaliknya. Dan inilah mengapa kita sering jumpai bahwa ada seseorang yang tidak terlalu menonjol dalam prestasi akdemiknya di sekolah namun sukses dalam memerankan kehidupannya dengan baik.
Dengan memahami hal ini, kita lalu menyadari bahwa tidak adil rasanya jika kita memberikan vonis seseorang--baik anak didik di sekolah kita maupun orang lain dalam kehidupan kita--menjadi discrate dan nominal ke dalam bisa atau tidak bisa atau mengerti dan tidak mengerti. Hitam putih hanya dua pilihan saja. Melainkan kita melihatnya sebagai insan yang senantiasa beranjak secara kontinum menjadi semakin bisa dan semakin mengerti sepanjang kehidupannya.
Malang, 15 April 2026
R. Ahmad Nur Kholis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar