Minggu, 01 Agustus 2021

TAFSIR QS. MARYAM, (19):33 MASALAH MERAYAKAN HARI DAN MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

(download di sini!)

Beberapa kalangan masih mempermasalahkan mengenai hukum mengucapkan selamat natal. Dan meskipun ini selalu dibicarakan khususnya dalam waktu-waktu mendekati hari natal yang biasanya dirayakan, namun isu ini selalu hangat di jagat media sosial. Dalam beberapa waktu ini, meskipun pada saat artikel ini di tulis kalender masih menunjukkan bulan agustus, namun penulis masih menjumpai pembicaraan masalah tersebut di jagat media sosial Facebook.

Sebagaimana saya telah menjelaskan di dalam status facebook saya yang berjudul: “MUSLIM MERAYAKAN HARI NATAL?” bahwa pada dasarnya, dalam kalangan Nasrani sendiri Natal hanyalah merupakan tradisi saja. Hal ini karena tidak ada satu ayat pun dalam Al-Kitab yang membahas tentang perayaan hari natal. Demikianlah sejauh apa yang saya dapatkan selama interaksi dan peninjauan saya dalam dialog group media sosial (facebook) kalangan  mereka.

Saya justru menekankan bahwa ucapan selamat natal tersebut ada dalam Al-Qur’an yakni dalam QS. Maryam, (19):33 sebagai berikut:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (٣٣)

Artinya:

Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".

Setiap kita mendengar kata “as-salam” dan atau “as-salamah” dalam bahasa arab kita mengandaikan makna kata “selamat” dalam bahasa Indonesia. Kita melihat bahwa kata “as-salam” pada ayat di atas diterjemahkan dalam versi kemenag sebagai “kesejahteraan.” Dan ini adalah tidak bermasalah karena kesejahteraan adalah bagian dari pada apa yang kita sebut sebagai “keselamatan”, disamping: (1) perihal (keadaan dan sebagainya) selamat; dan (2) kebahagiaan, dan sebagainya. Sehingga penerjemahan kata “As-Salam” sebagai “kesejahteraan” adalah tidak bermasalah.

Saya juga telah berulang kali menjelaskan secara kaidah ushul fiqih berkaitan dengan ayat tersebut dan juga bagaimana kaitannya dengan hukum mengucapkan selamat natal. Beberapa aspek seperti konsep syariat-syariat sebelum islam (syar’u man qablana) dalam ushul fiqih sudah pernah say jelaskan. Beberapa pihak dalam waktu belakangan ini menanyakan pula kepada saya mengenai penafsiran atas ayat tersebut di atas dan bagaimana kaitannya dengan hukum mengucapkan selamat natal dan bahkan merayakannya. Beberapa pihak juga mengatakan bahwa pada dsarnya penafsiran atas ayat tersebut adalah “rasa aman” bagi Isa dalam kelahirannya dari gangguan Syaithan. 

Berkaitan dengan hal tersebut maka saya dalam artikel ini hendak membahas mengenai penafsiran akan ayat QS. Maryam, (19):33 tersebut di atas. Berikut pembahasan dalam tafsir Ar-Razi mengenai ayat ini:

(المسألة الأولى) قال بعضهم لام التعريف فى السلام منصرف إلى ما تقدم في قصتى يحيى عليه السلام من قوله (وسلام عليه) أي السلام الموجه إليه فى المواطن الثلاثة موجه إلي أيضا.(1) وقال صاحب الكشاف الصحيح أن يكون هذا التعريف تعويضا باللعن عى من اتهم مريم بالزنا وتحقيقه أن اللام للإستغراق. فإذا قال: (والسلام علي) فكأنه قال وكل السلام عليه وعلى أتباعى فلم يبق الأعداء إلا اللعن(2) ونظيره قول موسى عليه السلام (والسلام على من اتبع الهدى) بمعنى أن العذاب على من كذب وتولَّى، وكان المقام مقام اللجاج والعناد ويليق به مثل هذا التعريض.

(المسألة الثانية) روى بعضهم عن عيسى عليه السلام أنه قال ليحيى أنت خير منى سلم الله عليك وسلمت على نفسى(3) وأجاب الحسنى فقال إن تسليمه على نفسه بتسليم الله عليه.

(المسألة الثالثة) قال القاضى السلام عبارة عما يحصل به الأمان ومنه السلامة فى النعم وزوال الأفات. فكأنه سأل ربه وطلب منه ما أخبر الله تعالى أنه فعله بيحيى(4)، ولا بد فى الأنبياء من أن يكونوا مستجابى الدعوة. وأعظم أحوال الإنسان احتياجا إلى السلامة هي هذه الأحوال الثلاثة وهي يوم الولادة ويوم الموت ويوم البعث فجميع الأحوال التى يجتاج فيها إلى السلامة واجتماع السعادة من قبله تعالى طلبها ليكون مصونا عن الآفات والمخافات فى كل الأحوال،(5) واعلم أن اليهود والنصارى ينكرون أن عيسى عليه السلام تكلم فى زمان الطفولية واحتجوا عليه بأن هذا من الوقائع العجبية التى تتوالفر الدواعى على نقلها فلو وجدت لنقلت بالتواتر ولو كان ذلك لمعرفة النصارى لا سيما وهم من أشد الناس بحثا عن أحواله وأشد الناس غلوا فيه حتىزعموا كونه إلها ولا شك أن الكلام فى الطفولية من المناقب العظيمة والفضائل التامة فلما لا تفرفه النصارى مع شدة الحب وكمال البحث عن أحواله علمنا أنه لم يوجدو لأن اليهود أظهروا عداوته حال ما أظهر أدعاء النبوة فلو أنه عليه السلام تكلم فى زمان الطفوليهة وادعى الرسالة لكانت عداوتهم معه أشد. ولكان قصدهم قتله أعظم. فحيث لم يحصل شيء من ذلك علمنا أنه ما تكلم. أما المسلمون فقد احتجوا من جهة العقل على أنه تكلم فإنه لو لا كلامه الذى دلهم على براءة أمه من الزنا لما تركوا إقامة الحدعلى الزنا عليها. ففى تركها لذلك دلالة على أنه عليه السلام تكلم فى المهد وأجابوا عن الشبهة الأولى بأنه ربما كان الحاضرون عند كلامه قليلين فلذلك لم يشتهر وعن الثانى لعل اليهود ما حضروا هناك وما سمعوا كلامه فلذلك لم يشتغلوا بقصد قتله. (تفسير مفاتيح الغيب للرازى، ((جـ.:21). ص:217)

Kiranya hanya beberapa point dari teks yang dikutip dari kitab Tafsir Mafatih Al-Ghayb yang ditulis oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi di atas. Beberapa point tersebut sebagaimana telah diberi kode dengan penomoran dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Point pertama (1) dalam teks tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan QS. Maryam, (19):217 adalah pernyataan Nabi Isa yang menjelaskan bahwa keselamatan yang telah diberikan kepada Nabi Yahya telah diberikan pula oleh Allah kepada-Nya.
  2. Point kedua (2) dalam teks tersebut menjelaskan alif-lam (أل) penanda isim ma’rifah pada kata As-Salam (السلام) adalah sebagai pernyataan celaan terhadap orang-orang yang menuduh mariam berzina.
  3. Point ketiga (3) teks tersebut menjelaskan bahwa Nabi Isa berkata kepada Nabi Yahya bahwa Nabi Yahya lebih baik dari-Nya. Ia mendapatkan “salam” dari Allah sedang Isa memohonkan “salam” untuk diri-Nya sendiri.
  4. Point keempat (4) teks tersebut menjelaskan bahwa perkataan Nabi Isa mengenai keselamatan bagi diri-Nya yang termaktub dalam QS. Maryam, (19):217 adalah permohonan Nabi Isa kepada Allah. Dijelaskan pula bahwa kata “As-Salam” adalah peristilahan: “keamanan”, “kesejahteraan” (karena telah dilipahkan nikmat), dan “keselamatan” dari bahaya.
  5. Point kelima (5) teks tersebut menjelaskan bahwa secara kemanusiaan, keselamatan atas kelahiran diucapkan karena hal tersebut adalah salah satu kondisi terpenting dari kehidupan manusia di samping, kematian yang perlu untuk dimintakan keselamatan. Hal paling penting lainnya dalam kaitannya dan khusu pada Nabi adalah waktu atau kondisi pada saat ia dinobatkan menjadi Nabi dan utusan (bi’tsah). Dan ketiga hal tersebutlah yang diucapkan oleh Nabi Isa sebagaimana di dalam QS. Maryam, (19):33 di atas.

Demikianlah penjelasan mengenai penafsiran QS. Maryam, (19):33 yang dikutip dalam Tafsir Mafatih Al-Ghayb karya Imam Fakhruddin Ar-Razi Juz: 21, Hlm:217.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa ayat pada QS. Maryam, (19):33 di atas berkaitan dengan pernyataan Nabi Isa atas “keselamatan-Nya” ketika ia dilahirkan. Dan meskipun kita harus menerjemahkannya sebagai ‘rasa aman’ ia merupakan bagian dari apa yang tercakup dalam istilah “As-Salam”. Berkaitan dengan hal perayaan hari natal, ayat ini cukup jelas menjelaskan (dalam tafsir yang telah dikemukakan) bahwa Nabi Isa telah merayakan hari kelahiran (natal)-Nya dengan ucapan yang ia katakan sebagaiman termaktub dalam QS. Maryam, (19):33 di atas.



Malang, 23 Dzulhijjah 1442 H / 02 Agustus 2021 M



R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

---------------------


Referensi

Ar-Razi, Fakhruddin. 1981. Tafsir Mafatih Al-Ghayb (vol. 21). Beirut: Daar Al-Fikr


Tidak ada komentar:

Posting Komentar