Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Juni 2020

PELETAKAN BATU PERTAMA


قال الله تعالى:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١٢٧ (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (١٢٨ (رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٢٩(
Artinya:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Jika kita meninjau Tafsir Ibnu Katsir, maka kita akan mengetahui bahwa terdapat banyak perbedaan pendapat mengenai siapakah yang pertama kali membangun Ka’bah. Ada yang berpendapat bahwa yang pertama kali membangunnya adalah malaikat. Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa Adam-lah yang pertama kali membangun Ka’bah. Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa Syith-lah yang membangun.
Namun demikian, Ibnu Katsir mengatakan bahwa semua riwayat yang mengatakan pendapat-pendapat tersebut adalah bersumber dari kitab orang Yahudi (perjanjian lama). Hal yang masyhur yang diyakini orang Muslim berdasarkan ayat Al-Qur’an adalah bahwa yang membangunnya dalah Ibrahim dan Ismail atas perintah Allah.
Jika kita meninjau Tafsir Jalalain dan tafsir Ibnu Abbas maka kita akan mengetahui bahwa ayat 127-129 Surah Al-Baqarah sebagaiman dikutip dalam awal wacana tulisan ini merupakan doa yang dibacakan oleh Ibrahim dan Ismail ketika peletakan batu pertama Ka’bah. Dikatakan dalam Tafsir Jalalain bahwa makna dari kata ‘al-qawaid’ dalam ayat 127 Al-Baqarah di atas adalah ‘al-asas’ (pondasi) atau ‘al-jidar’ (tembok). Ibnu Abbas menafsirkan dengan makna yang disebut pertama yakni ‘al-asas.’ Dikatakan pula dalam Ibnu Abbas bahwa do’a tersebut diucapkan ketika peletakan batu pertama itu sudah dilaksanakan. Dan Ibnu Katsir mengatakan bahwa doa dilantunkan bersama oleh Ibrahim dan Ismail.
Terlepas dari masalah-masalah teknis sebagaimana dijelaskan di atas, setidaknya kita mengerti bebebrapa hal dari ketiga ayat Surah Al-Baqarah di atas yaitu: (Pertama) Pelaksanaan peletakan batu pertama khususnya untuk pembangunan tempat ibadah memiliki landasan ayat 127; (Kedua) Ayat 128 Surah Al-Baqarah secara eksplisit menjelaskan bahwa masjid sebaga fasilitas tempat ibadah bagi kaum muslimin. (Ketiga) Ayat 129 Surah Al-Baqarah menyatakan bahwa masjid merupakan tempat pendidikan bagi kaum muslimin akan ayat-ayat Allah sekaligus sebagai tempat kaderisasi. Dijelaskan baik dalam tafsir Jalalain maupun dalam tafsir Ibnu Abbas bahwa pernyataan ayat 129 Surah Al-Baqarah “wab’ats fihim rasuulan” adalah doa nabi Ibrahim yang kemudian dikabulkan dengan diutusnya Nabi Muhammad.

R. Ahmad Nur Kholis
(-) Pegiat Kajian Ulum Al-Qur’an
(-) Pengajar Ilmu Nahwu di Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah Karangploso Malang
(-) Dosen Studi Al-Qur’an di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang
(-) Pengajar Ushul Fiqh di Pondok Pesantren PPAI Al-Fithriyah Kepanjen Malang

PERUMPAMAAN KELEDAI DAN MEMBACA AL-QUR’AN


Selasa, 24 Januari 2017

Tafsir Surah Al-Fatihah 1

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis

Data Kuantitas
Jumlah Ayat    : 5 (Lima)
Surah ke-         : 1 (Pertama)
Jumlah kata     : 30 (Tiga Puluh)
Jenis Ayat       : Makkiyah

Surah Al-Fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)
Artinya:
(1) dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (2) segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) yang menguasai di hari Pembalasan. (5) hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. (6) Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ful text download here!

Minggu, 01 Maret 2015

Tafsir Al-Manar: Muhammad Abduh & Rasyid Ridha

Kitab Tafsir Al-Manar ini nama aslinya adalah: 'Tafsir Al-Qur'an Al-Hakim.' Lalu kemudian dikenal dengan nama: Al-Manar. Merupakan Buah Karya guru dan Murid Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Muhammad Abduh lahir di Delta Nil (kini wilayah Mesir), 1849 – meninggal di Iskandariyah (kini wilayah Mesir), 11 Juli 1905 pada umur 55/56 tahun. Ia adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam.
Ia belajar tentang filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamaluddin al-Afghani, seorang filsuf dan pembaru yang mengusung gerakan Pan Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika.
Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun sejak 1882, karena keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi. Di Lebanon, Abduh sempat giat dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Pada tahun1884, ia pindah ke Paris, dan bersalam al-Afghani menerbitkan jurnal IslamThe Firmest Bond.

(Muhammad Abduh)

Pemikirannya banyak terinspirasi dari Ibnu Taimiyah, dan pemikirannya banyak menginspirasi organisasi Islam, salah satunya Muhammadiyah, karena ia berpendapat, Islam akan maju bila umatnya mau belajar, tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu sains.
Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin Al-Qalmuni Al-Husaini (dikenal sebagai Rasyid Ridha; 1865-1935) adalah seorang intelektual muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Mulai tahun 1898 hingga wafat (1935), Ridha menerbitkan surat kabar yang bernama Al-Manar. Nampaknya, Nama Kitab Tafsir ini diambil dari nama majalah tersebut. 
Karakteristik Tafsir ini adalah, bahwasanya ia ditulis dengan metode tafsir Adabi-ijtima'iy. Yakni penafsiran dengan menggunakan metode pendekatan sosio-kultural. Selain itu, penulisnya: Muhammad Abduh, sebagaimana Rasyid Ridha sangat dipengaruhi oleh Rasionalisme Mu'tazilah dalam Tafsir ini. sampai-sampai, Pembahasan tentang Surah 'Jin' dalam Al-Qur'an seakan sulit untuk dijelaskan oleh Abduh. Karena hampir Rasio tidak bisa mencapainya, dan setelah pembahasan yang agak berbelit-belit, dapat disimpulkan bahwasanya penulis Tafsir ini menyimpulkan bahwa Jin itu adalah sekedar 'halusinasi' manusia saja. 
Pernyataan demikian ini, sontak saja mendapat kritikan oleh jumhur ulama, dan akhirny Mempertanyakan tentang apakah bisa kitab Tafsir al-Manar ini ditolerir ?. Namun demikian, sebagai sebuah kontribusi Intelektual karya Abduh dan Rasyid Ridha ini patut kita hargai. Utamanya, karena Prinsip yang melatarbelakangi penulisan Tafsir ini adalah: "Upaya meewujudkan Al-Qur'an yang bisa diterima sebagai pedoman sepanjang Masa."
Kitab Tafsir Al-Manar bisa didownload di sini :

Sabtu, 14 Februari 2015

Fushush Al-Hikam Ibnu Araby

Muhiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta'i (28 Juli 1165-16 November 1240) atau lebih dikenal sebagai Ibnu Arabi adalah seorang sufi terkenal dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam.

Pandangan Ibnu Arabi
Ibnu Arabi sangat dikenal dengan konsep Wihdatul Wujud-nya. Ia mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya.

Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya. Ia juga seorang tokoh politik yang tidak pernah diperhitungkan keberadaannya dalam sejarah.


Pengaruh Ibnu Arabi
Pengaruh Ibnu Arabi dalam bidang tasawuf, khususnya tasawuf filosofis, sangat luar biasa. Gagasan Ibnu Arabi menyebar luas dan memiliki pengikut yang tidak sedikit jumlahnya.
Di Indonesia, paham wihdat al-wujud Ibnu arabi berpengaruh besar. Terbukti dengan banyak ulama Indonesia yang memakai prinsip wihdat al-wujud, di antaranya: Hamzah Fansuri, Syamsudin as-Sumatrani dan Abdus Samad al-Palimbani.

Karya-karya
Arabi menghasilkan banyak karya, sejumlah 300 buku. Di antara buku-buku itu, yang dikenal adalah Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyyah juga Tarjuman al-Asywaq.futuhat adalah karya besar yg menyingkap ilmu gaibul gaib uluhiyat & rububiyyat yang sangat dalam sesuai dengan keterbukaan sang syech dari Yang Haq berhubungan dengan permohonan sang syech ketika di Makkah.

Kitab Fushush Al-Hikam Silahkan Download di Sini !