Selasa, 27 Oktober 2026

CERAMAH AGAMA GAYA LAMA AKAN SEGERA TIDAK LAKU?



Zamakhsyari Dhofier (1982) dalam bagian proposisi desertasinya yang kemudian terbit menjadi buku dengan judul: "Tradisi Pesantren" mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran (secara perlahan tapi pasti) sejak awal abad lalu (abad ke-19), dari pesan-pesan agama yang disampaikan melalui ceramah agama dengan menghadirkan massa ke dalam bentuk yang lebih ilmiah yaitu pendidikan pesantren. Begitu pula Gus Dur dalam sebuah artikel nya yang dikumpulkan menjadi buku berjudul "Tuhan Tak Perlu Dibela" juga mengatakan bahwa ceramah agama di panggung-panggung yang dibilang pengajian telah kehilangan esesnsinya untuk menyadarkan masyarakat bahwa hidup adalah pengabdian. Setidaknya dua proposisi ini akan saya gunakan untuk melihat apa yang saya rasakan saat ini mengenai bagaimana agama ini disampaikan masih dengan cara lama di masa kini.

Saya melihat bahwa apa yang terjadi saat ini terhadap tradisi dakwah agama melalui ceramah gaya lama sudah semakin kehilangan daya tariknya di tengah-tengah masyarakat. Setidaknya inilah yang saya rasakan membaca tanggapan masyarakat terhadap ceramah agama di kampung saya yang saya ikuti.

Saya melihat hal ini lebih merupakan kelanjutan pergeseran dari apa yang dinyatakan oleh Zamakhsyari Dhofier (1982). Dan jika ini yang terjadi maka dakwah agama kita harus bergeser menjadi lebih ilmiah daripada ceramah agama yang biasanya ada selama ini. Dengan demikian maka penguatan pesantren yang akhir-akhir ini banyak dikritik menjadi semakin mendesak untuk dilakukan.

Saya merasakan selama ini mengikuti pengajian-pengajian umum di kampung-kampung menunjukkan beberapa hal: (1) semakin kehilangan relevansi nya bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat yang nyata. Dalam kata lain tidak menjadi solusi bagi permasalahan hidup mereka. (2) tidak membawakan perubahan masyarakat yang lebih baik baik dampak yang besar (high impact) maupun yang perlahan (low impact).

Penting sekali untuk melakukan reorientasi pengajian kita di masyarakat bawah. Agar supaya merasakan dan menginternalisasi bahwa kehidupan ini-sebagaimana dikatakan Gus Dur--intinya adalah pengabdian.


Malang, 27 Oktober 2026



R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar