Sabtu, 12 Juli 2025

KITAB TAQRIRAT DI PESANTREN: SEBUAH POLA BARU DALAM PERKEMBANGAN TRADISI KEILMUAN DAN PEMBELAJARAN DI PESANTREN

Sampul Kitab Taqrirat Jauharatut Tauhid yang diterbitkan, digunakan dan dipelajari di Pesanten Al-Falah Ploso Mojo Kediri

Clifford Geertz (1960) mengatakan bahwa tradisi keilmuan di pesantren mengikuti tradisi keilmuan skolastik yang rigid dan detail. Hal ini ditandai misalkan dengan model pemaknaan interliner terhadap kitab-kitab berbahasa arab yang pada umumnya ditulis oleh para sarjana muslim (ulama) abad pertengahan. Hal ini berbeda jika kita bandingkan misalkan dengan kalangan modernis, yang menurut Geertz (1960) memahami Islam secara instrumental.

Jika kita membaca misalkan di dalam Bruinessen (1990); dan Bruinessen (1994), tradisi keilmuan terkait kitab kuning di Indonesia pada umumnya, disamping kajian doktrinal di pesantren, adalah juga berkaitan dengan penerjemahan kitab-kitab tersebut ke dalam bahasa lokal. Ia kemudian membuat daftar dan prosentase mengenai kitab-kitab yang dikaji di pesantren mulai tingkat dasar, menengah dan tinggi. Bruinessen (1994) juga mendaftar terjemahan kitab kuning berbahasa arab karya para sarjana (scholarship) timur tengah ke dalam bahasa lokal (jawa, sunda dan madura). Berikut pula para tokoh ulama Indonesia yang berperan dalam upaya penerjemahan tersebut.

Nnamun demikian, saya kira tradisi keilmuan sebagaimana dipaparkan di atas tersebut berkembang dalam kaitannya dengan tradisi keilmuan di pesantren. Dikatakan berkembang di sini oleh karena terdapat tradisi yang masih dipertahankan, dan demikian pula terdapat tradisi yang dikembangkan. Model penerjemahan interlinier masih dipertahankan dalam pembelajaran. Begitu pula dengan sifatnya yang rigid dan detail sebagaimana tradisi era skolastik. Begitu juga karakteristik dalam penerjemahan interliner yang pada sebagian hal koheren dengan teori penerjemahan interlinier sebagaimana dirumuskan dalam Newmark (1988) (Newmark Translation’s Theory), yakni penerjemahan yang bersifat: (1) teknik terjemahan harfiah; (2) transferensi; (3) Naturalisasi; (4) padanan budaya; (5) padanan fungsional; (6) padanan deskriptif; (7) sinomimi; (8) terjemahan langsung; (9) transposisi; (11) modulasi; (12) label terjemahan; (13) terjemahan lazim; (14) kompensasi; (15) reduksi; dan (16) ekspansi. (Nemark, 1988). Tradisi syarah (to explanation) dan hasyiyah (footnote) sudah berlangsung sejak lama, setidaknya sejak era Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Mahfud At-Tirmasi.

Sampul Kitab Taqrirat Al-Kharidatul Bahiyyah yang diterbitkan, digunakan, dan dipelajari di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang

Adapun hal-hal yang dikembangkan setidaknya adalah dalam kaitannya dengan pemberian taqrirat, yang dalam konteks pembelajaran dapat diterjemahkan sebagai catatan-catatan pembelajaran. Penulis telah menemukan beberapa kitab taqrirat yang ditulis oleh pembelajar pesantren. Untuk setidaknya menyebutkan tiga di antaranya adalah: (1) taqrirat nadzam Al-Maqshud dalam bidang tashrif (morphology); (2) taqrirat al-kharidatul bahiyyah karya Al-‘Adwiy; dan (3) taqrirat jauharut Tauhid. Dua yang terakhir adalah kitab yang membahas tentang ilmu al-kalam (theology). Ketiganya adalah merupakan catatan pembelajaran atas kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama penutur bahasa Arab. Kitab inti yang pertama disebutkan tersebut ditulis oleh Al-Thahthawy dari Mesir. Kitab inti yang kedua ditulis oleh Al-‘Adwy. Dan kitab yang terakhir ditulis oleh Al-Laqany.

Saya berpendapat bahwa fenomena taqrirat ini adalah berbeda dengan tradisi syarah dan hasyiyah yang merupakan warisan tradisi skolastik setidaknya di dalam dua hal yaitu: (pertama) bahwa secara fungsional, kitab taqrirat ini diperuntukkan khusus bagi pembelajaran di satu tingkatan pembelajaran di pesantren. Hal terlihat setidaknya pada tulisan sampul kitab taqrirat yang tertera khusus peruntukan kitab untuk satu tingkatan tertentu. Misalkan dalam contoh sebagai berikut:

Di dalam taqrirat Al-Kharidatul Bahiyyah yang digunakan di pesantren Sarang Rembang terdapat tulisan sebagai berikut:

الخريدة البهية للقسم الخامس الإبتدائي في المدرسة الغزالية الشافعية سارانج – رمبانج

Artinya:

Kitab “Al-Kharidatul Bahiyyah” bagi kelas 5 (lima) dasar di madrasah Al-Ghazaliyyah As-Syafi’iyyah Sarang Rembang.

Di dalam taqrirat Jauharatut Tauhid yang digunakan di pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri terdapat tulisan sebagai berikut:

تقريرات جوهرة التوحيد للعلامة الشيخ إبراهيم اللقاني للمدارس الإسلامية السلفية

Artinya:

“taqrirat Jauharatut Tauhid” karya al-‘allamah Ibrahim Al-Laqany, diperuntukkan bagi madrasah-madrasah Islam salaf.”

Kita melihat dari kedua contoh tersebut, bahwa kitab taqrirat itu diperuntukkan bahkan begitu spesifik hanya bagi pesantren yang mengeluarkan kitab taqrirat tersebut.

(Kedua): oleh karena kitab ini dikeluarkan secara kelembagaan, maka kitab ini tidak mencantumkan nama penulis secara spesifik. Hal ini tidak terjadi pada dua fenomena yang lain yang telah disebutkan di sini yakni syarah dan hasyiyah. Yang mana, untuk dua yang terakhir tersebut, oleh karena inisiatif penulisannya bersifat personal dan untuk tujuan diskusi keilmuan dan pengembangan teori (sebagai karya ilmiah), maka nama penulis diterakan secara spesifik.

demikianlah, kitab taqrirat nadzam al-maqshud, yang penulis jelaskan di dalam tulisan ini adalah kitab yang digunakan dan dipelajari di Pesantren Lirboyo Kediri. Adapun Taqrirat Kharidatul Bahiyyah yang dijelaskan di sini adalah kitab yang digunakan dan dipelajari di Pesantren Sarang Rembang Jawa Tengah. Sedangkan kitab taqrirat Jauhartut Tauhid digunakan dan dipelajari di Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri.

Fenomena taqrirat dalam tradisi pesantren pada dasarnya menjadi sesuatu yang unik oleh karena catatan pembelajaran tersebut ditulis di dalam bahasa arab. Hal ini berbeda dengan penerjemahan yang berlangsung sebelumnya, di mana kitab berbahasa arab diterjemahkan dan dijelaskan dalam bahasa lokal, dan bersifat personal serta terjadi perubahan judul kitab.



Malang, 13 Juli 2025



R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar