Kamis, 12 April 2018

Mengenai Rencana Blokir Facebook

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Sebelumnya, harus saya katakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi ini adalah bagian dari buah ilmu pengetahuan yang sudah mulai bingung ia hendak kemana. Pada masa awal perkembangan ilmu, memang harus kita akui bahwa ilmu telah banyak menolong kehidupan manusia. Bahkan jika tidak salah, sejak tahun 1970-an, dimana teknologi sebagai buah dari ilmu ini sedang berkembang sedemikian pesatnya untuk mempermudah kehidupan manusia, dalam arti sebagai alat dan fasilitas. Dan bahkan para agamawan sejak dulu berusaha dengan susah payah untuk bagaimana pemahaman agama yang dipunyainya itu bisa menjangkau dan disambungkan dengan apa yang kita sebut dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, jika kita berbicara saat ini, di mana perkembangan ilmu nampaknya sudah mencapai puncaknya, sepertinya manusia sudah lelah untuk mengejar teknologi yang terus berlari tak jelas arahnya. Kita tak tau kapankah aplikasi FB dan media sosial lainnya. Bahkan, sedemikian cepatnya sehingga, teknologi komputer dengan OS Windows7 yang sepertinya baru kemarin berada paling atas, sekarang sudah dihargai hampir semacam rongsokan.
Ekses negatifnya, manusia menjadi seolah setengah sadar bahwa ia hidup di dunia nyata karena sibuk terus di dunia maya. Kadang ia berkepribadian dan identitas ganda disadari atau tidak. Baik dan lemah lembut saat silaturrahmi di rumah, lalu kemudian saling bertengkar di media sosial tampa pernah tau siapa sejatinya yang sedang ia benci.
Memang laju informasi dan komunikasi sedemikian cepatnya, namun produktifitas keilmuan menjadi sangat menurun. Saya kira fenomena ulama terdahulu di mana mereka mampu menghasilkan karya sangat banyak bahkan melampaui umurnya sangat unik untuk dipelajari. Mbah Kiai Hasyim Asy'ari sudah belajar puluhan bahkan mungkin ratusan kitab pada sekian banyak guru di usia 30-an. Sedang kita saat saat ini? kita tahu sendiri. Padahal di zaman dahulu, teknologi penerangan tidak secanggih sekarang yang tinggal tekan saklar.
Saya menjadi teringat wejangan Albert Enstein dalam sebuah kesempatan cerama di depan mahasiswa California Institute of Technology, yang mengatakan demikian:
"Begitu juga dengan saya. Marilah kita perhatikan seorang Indian yang mungkin tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah kurang bahagia dibandingkan rata-rata manusia yang beradab. Terdapat arti yang sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak-anak dari seluruh penjuru dunia yang beradab senang sekali bermain meniru-niru Indian."
Sungguh fenomena yang sangat menarik untuk kita renungkan. Saya setuju jika Facebook diblokir....
Wallahu A'lam.

Malang, 12 April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar