Oleh:
HM. Bibit Suprapto, BA., M.Si., M.Sc
Profil
Seorang ulama besar dari kalangan Al-Jawi (dunia Melayu) hidup di tanah suci Makkah sebagai guru di Masjid Al-Haram Makkah. Ulama ahli berbagai disiplin ilmu keislaman yang alim allamah, sebagai ahli fiqh, hafidh sekaligus ahli qira’at, ahli falaq, ahli hadits sekaligus musnid (pemegang sanad hadits), sekaligus ahli bahasa dan sastra arab. Seorang ulama’ al-Jawi yang menggerakkan upaya kemerdekaan untuk negara-negara di nusantara yang saat itu berstatus negara-negara terjajah. Sebagai seorang ulama penulis kitab (mu’allif) yang sangat produktif dan sekaligus pentashih kitab-kitab yang akan diterbitkan, juga sebagai tokoh pertama penerbitan kitab-kitab terutama karangan ulama Al-Jawi (Nusantara) melalui penerbit yang didirikannya di Makkah, Mathba’ah Al-Mirriyah Al-Kainah. Dengan upaya itu akhirnya kitab-kitab tersebut cepat beredar luas di seluruh nusantara.
Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani dilahirkan pada hari Jum’at waktu jendera budak tanggal 5 Sya’ban 1272 H Tahun Ular (menurut Falaq Patani) bertepatan tanggal 10 April 1856 M di kampung Semanjajar, Sena, Negeri Patani, sebagai putra pasangan Syeikh Muhammad Zein (Tok Wan Dien) Al-Fathani dengan Hj. Wan Cik binti Muhammad Sholeh Al-Fathani. Dari ayahnya ia termasuk keturunan Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini, lengkapnya Wan Ahmad bin Wan Muhammad Zain bin Wan Musthafa bin Muhammad bin Faqih Wan Musa Zainal Abidin bin Al-Hadlrami (Ibrahim As-Samarkandi) bin Sayyid Jamaluddin Husain. Nama Musa Zainal Abidin ayahnya adalah Wan Abdullah Laqiki (Ali Nurul Alam) bin Sayyid Jamaluddin Husain. Berarti ke atas ulama ini satu keluarga dengan Wali Songo di Pulau Jawa. Sedangkan dari jalur ibunya ke atas sebagai keturunan Syeikh Shofiyuddin Al-Abbasi.
Pendidikan & Dedikasi Keilmuan
Ahmad Al-Fathani mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayah-ibunya di Pondok Pesantren Sena Jajar yang diasuh kakeknya. Ketika ia berusia 4 (empat) tahun-an diboyong oleh orang tuanya ke Makkah untuk menetap di sana (ayahnya sebelumnya lama di tanah suci). Ketika usianya 6 (enam) tahun Ahmad telah menjadi seorang hafidh (hafal Al-Qur’an) 20 (dua puluh) juz dan sudah tampak kecerdasan-nya. Ia belajar langsung kepada ayahandanya dan ulama-ulama lain di masjid Al-Haram. Di antara gurunya adalah Sayyid Muhammad bin Zaini Dahlan, Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha, Sayyid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah, Syeikh Umar As-Syami Al-Baqir, Syeikh Muhammad Baqi An-Nazili, Sayyid Husain Al-Habsyi dan beberap ulama yang lain. Guru-gurunya dari kalangan ulama Al-Jawi adalah Syeikh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Abdul Qodir bin Abdurrahman Al-Fathani, Syeikh Syeikh Nik Mat Kecik (Muhammad bin Isma’il Daudi) Al-Fathani dan Syeikh Wan Ali bin Abdurrahman Kutan Al-Kalantani.
Setelah belajar selama 14 (empat belas) tahun di Makkah, Ahmad yang sudah dewasa merantau ke Baitul Maqdis (Palestina), lantas memperdalam Ilmu Farmasi (perobatan) kepada Syeikh Abdurrahman Al-Kabuli asal Afghanistan selama 2 (dua) tahun (1874-1876 M). Ia juga bersahabat sekaligus berguru kepada Syeikh Yusuf An-Nabhani ulama Ahlussunnah wal Jama’ah terkemuka asal Beirut (Libanon). Sepulangnya ke Makkah, alim muda ini agak malas mengaji dan gemar mengadakan percobaan untuk ilmu farmasi. Hal ini membuat marah ayahandanya, karena bukan itu yang dikehendakinya. Sang ayah mengehendaki Wan Ahmad kelak menjadi ulama, bukan ahli pengobatan.dan bersama
Karena dimarahi Syeikh Muhammad Zain (Tok Wan Dien) tersebut Wan Ahmad nekat untuk pergi ke Mesir dan bersumpah di hadapan ayanya, bahwa ia tidak memakai sorban berekor panjang (layaknya ulama), sebelum berhasil menjadi ulama. Dengan bekal tekat dan finansial sangat kurang ia pergi ke Kairo dan belajar di Jami’ Al-Azhar (Universitas Al-Azhar). Dialah anak dunia Melayu (Al-Jawi, Jawa) pertama kali belajar di Al-Azhar selama 6 (enam) tahun hingga lulus sarjana (1876-1882 M). Selama kuliah di Al-Azhar ia bertempat di Masjid Kampus karena tidak mempunyai biaya disampai kerja sambilan di luar kuliah. Selama di Mesir ia berkenalan dengan pemikir / pembaharu seperti Syeikh Muhammad Abduh dan Muridnya Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dan sering berperan sebagai penengah perbedaan pendapat yang tajam antara Syeikh Muhammad Abduh dengan Syeikh Yusuf An-Nabhani. Ia Juga berkenalan dengan Musthafa Al-Babi Al-Halabi, seorang penerbit di Mesir. Perkenalannya inilah yang membawa perubahan nasibnya baik semasa di Mesir maupun setelah kembali ke Makkah, mulai sebagai pentashih kitab sampai membuat penerbitan sendiri. Sarjana pertama Al-Azhar inilah kelak banyak mengirimkan murid-muridnya di Makkah untuk kuliah ke Al-Azhar seperti Syeikh Tahir Jamaluddin, Syeikh Abdul Muthalib Al-Asyi, Syeikh Ahmad bin Thahir Lampung, Syeikh Muhammad Al-Fathani, juga putranya sendiri Wan Ismail bin Ahmad Al-Fathani.
Sepulang dari Mesir, Syeikh Ahmad Al-Fathoni telah menjadi ulama terkemuka di Makkah, langsung diangkat sebagai guru di Masjid Al-Haram, setelah ia berhasil memenangkan lomba pidato dan bersyair dengan sastra arab tingkat tinggi di hadapan penguasa Mekkah Syarif Husain (1882). Namun demikian ia melanjutkan belajar kepada ulama-ulama senior terutama guru-gurunya sebelum ia berangkat ke Palestina dan Kairo. Ulama ini sebagai guru di Masjid Al-Haram bersama-sama Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan sebelumnya Syeikh Nawawi Al-Bantani, kemudian diasuh oleh kadernya Syeikh Abdul Hamid Kudus dan Syeikh Mukhtar Atharid Al-Bashry sejak awal abad ke-20. Syeikh Ahmad Al-Fathani mengajar di Masjid Al-Haram selama 26 (dua puluh enam) tahun (1299-1325 H / 1882-1908 M) hingga akhir hayatnya dan terkenal sebagai guru yang sangat disiplin bahkan sering marah bila waktu menerangkan ada murid bicara sendiri, namun mereka senangk karena keluasan ilmunya.
Syeikh Wan Ahmad seorang hafidh sejak kecil, juga ahli qira’at sab’ah. Ia juga seorang Muhaddits (Ahli Hadits) sekaligus musnid (ahli sanad, mata rantai) untuk hadits Buhkari yang memiliki legalitas mengajarkan hadits tersebut. Mata rantai ke-15 (kelima belas) melalui sanad Sayyid Husain Al-Habsyi. Dari bawah ke atas mata rantai tersebut adalah: 1) Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani; 2) Sayyid Husain bin Muhammad Al-Habsyi; 3) Sayyid Muhammad bin Husain Al-Habsyi (Ayahnya); 4) Syeikh Umar bin Abdul Karim Al-Athar; 5) Syeikh Ali bin Abdul Bari Al-Wana’i; 6) Syeikh Abdul Qadir bin Ahmad Al-Andalusi; 7) Syeikh Muhammad bin Abdullah Al-Jahisi; 8) Al-Quthub Muhammad bin Alauddin Al-Nahruali; 9) Syeikh Falih Al-Madani; 10)Syeikh Abdul Fatah Ahmad bin Abdullah At-Thawas; 11) Baba Yusuf Al-Harawi; 12) Syeikh Muhammad bin Ayaz Bakhat Al-Farghani; 13) Syeikh Abi Luqman Yahya Al-Kaulani; 14) Syeikh Muhammad bun Yusuf Al-farbari; 15) Syeikh Al-Hadits Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari atau Imam Bukhari (194-256 H / 810-870 M).
Disamping itu Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani sebagai pemegang sanad / mata rantai ke-21 (ke dua puluh satu) ijazah dari Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan. Lengkapnya mata rantai dari bawah ke atas adalah: 1) Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani; 2) Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan; 3) Syeikh Usman bin Hasan Ad-Dimyathi; 4) Syeikh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi; 5) Syeikh Muhammad Salim Al-Hifany; 6) Allamah Abdul Aziz Az-Zayyadi; 7) As-Syamsu Muhammad bin Alauddin Al-Babili; 8) Syeikh Salim bin Muhammad As-Sauhari; 9) An-Najm Muhammad bin Ahmad Al-Gharti; 10) Syeikh Zakariya bin Muhammad Al-Anshari; 11) Al-Hafidh Syeikh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani; 12) Syeikh Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi; 13) Abu Abbas Ahmad bin Abu Thalib Al-Hajjar; 14) Al-Husain Al-Mubarak Az-Zabidi; 15) Abu Al-Wazshi Abdul Awal bin Isa As-Syijzi; 16) Abu Hasan Abdurrahman bin Muzaffar bin Daud Ad-Daudi; 17) Ab Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Sarakhzi; 18) Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-farizi (mendapat ijazah langsung dari); 19) Al-Imam Al-Hafidh Syeikh Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari. (Mata rantai ke-19 (kesembilan belas ini dapat menjadi mata rantai ke-21 (kedua puluh satu) bila dar Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyati (3); mendapat mendapat ijazah dari Syeikh Muhammad bin Ali As-Syanwani (4); Syeikh Isa bin Muhammad Al-Barawai (5); Syeikh Muhammad Al-Dafri (7); Syeikh Salim bin Abdullah Salim Al-Bashri (Ayahnya) (8); dari As-Syamsu Muhammad bin Alauddin Al-Babili (seperti no. 7 di muka)). Mata rantai sama dengan ahli hadits dari dunia melayu lainnya Syeikh Mahfud At-Tirmasi (1868-1920 M) yang mendapat ijazah dari Sayyid Abu Bakar Shatha yang menerima dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, sedangkan Syeikh Ahmad menerima langsung dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
Selain menerima ijazah sebagai musnid hadits dari Sayyid Husain Al-Habsyi dan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan di Makkah, Syeikh Ahmad juga menerima ijazah untuk hadits musalsal dari Sayyid Muhammad Ali bin Dhakir Al-Watri, seorang ulama hadits di Madinah pada 28 Rojab 1319 H / 1901 M. Sanadnya Syeikh Ahmad-Sayyid Muhammad Ali Al-Watri - Syeikh Minatullah Al - Maliki Al-Azhari – Al-Amir Muhammad Al-Kabir - Al-Allamah Al-Muhaddits Abdurrahman Al-Kuzbasy Ad-Dimasqy – Al-Allamah Al-Muhaddits Ismail Al-Ajlumi – ke atas terus sampai pengarang kutubus sittah. Syeikh Ahmad juga menerima ijazah dari ulama hadits lainnya di Madinah; Syeikh Abdul Qadir As-Syibly Ath-Tharabulusi.
Ulama asal Patani ini seminggu sebelum menerima ijazah dari Sayyid Al-Watri untuk Hadits, menerima ijazah untuk shalawat Dala’il Al-Khairat dari Syeikh Muhammad Amin Ar-Ridlwan. Silsilahnya: Syeikh Ahmad Al-Fathani – Syeikh Muhammad Amin Ridlwan – Syeikh Ali bin Yusuf Al-Hariri – Sayyid Muhammad Al-Mudghari – Sayyid Muhammad bin Ahmad Al-Mutsanna – Sayyid Muhammad bin Al-Haj – Sayyid Ahmad Al-Mughni – Sayyid Abdul Qadir Al-Fasi – Sayyid Ahmad bin Abul Abbas As-Shuma’i – Sayyid Ahmad bin Musa As-Samlali; Sayyid Abdul Aziz Sabaa’ – menerima dari penyusunannya langsung Sayyid Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli Al-Husaini.
Syeikh Ahmad Al-Fathani sebagai seorang ahli tasawuf khusunya thariqat, menerima beberapa ijazah irsyad (sebagai mursyid), yakni thariqat Syathariyyah dari Syeikh Abdul Qadir bin Abdurrahman Al-Fathani dan Syeikh Wan Ali bin Abdurrahman Kutan Al-Kalantani, keduanya murid dari Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fathani. Ia menerima ijazah thariqat syadziliyah dari Syeikh Wan Ali Kutan Al-Kalantani disamping Thariqat Syathariyah. Sedangkan untuk thariqat Ahmadiyah Idrisiyah dari Syeikh Ahmad Ad-Dandarawi. Di sini perbedaannya bila sahabatnya Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menentang praktik thariqat, Syeikh Ahmad Al-Fathani sebagai tokoh thariqat di samiping keilmuan islam lainnya.
Dalam bidang penulisan kitab Syeikh Ahmad sejak kuliah di Al-Azhar sudah merintis jaringannya, tokoh-tokoh penerbit seperti Syeikh Musthafa Al-Babi Al-Halabi, Syeikh Hasan Tukhi dan Arsyad Al-Kasymiri, Fida Muhammad dan anaknya Abdul Ghamil (Kairo) yang mulai tertarik menerbitkan karya-karya ulama al-Jawi. Di samping Syeikh Ahmad mengajukan bantuan kepada Sultan Abdul Hamid II penguasa Turki untuk membiayai penerbit yang akan didirikan dan akhirnya berhasil. Ia mendirikan percetakan dan penerbit Mathba’ah Al-Miriyah Al-Kainah di Makkah (1300 H / 1882 M). Dengan lahirnya penerbit inilah kitab-kitab karya ulama nusantara masa lalu banyak diterbitkan dan beredari di Makkah sampai ke tanah air. Dalam perkembangannya Syeikh Ahmad mengutus murid dan pembantunya, Syeikh Daud bin Ismail (Tok Daud Khotib) untuk mendirikan cawangan (cabang) di Kelantan, kemudian berkembanglah Syirkah Al-Ahmadiyah di Pulau Penyengat lantas Singapura dan seterusnya beridiri penerbit kitab di kota-kota lain.
Syeikh Ahmad membentuk lembaga tashih dan tahqiq untuk mentahqiq (mengoreksi) naskah kitab sebelum diterbitkan / dicetak agar tidak keliru. Lembaga ini terdiri dari ulama-ulama yang sudah ahli dan menguasai ilmu keislaman. Sebagai ketuanya Syeikh Ahmad Al-Fathani sendiri, dengan asistennya Syeikh Abdul Hamid Al-Kudri (Kitab berbahasa Arab dan Jawa), Syeikh Muhammad Amin (Arab-Bugis), Syeikh Daud Ismail, Syeikh Idris bin Husain Al-Kalantani, Syeikh Abdurrahman Gadang Al-Fathani, Syeikh Daud bin Mushtafa Al-Fathani (Arab-Melayu), Syeikh Ismail bin Abdul Mutholib Al-Asyi (Arab-Aceh). Sedangkan Syeikh Muhammad bin Ismail Daud Al-Fathani dan Syeikh Said bin Isa Al-Kalantani sebagai penasihatnya.
Karya Tulis
Syeikh Ahmad Al-Fathani disamping mengajar di Masjidil Haram, memimpin lembaga tashih dan tahqiq serta penerbitan kitab, juga seorang penulis kitab yang sangat produktif. Menurut H. Wan Muhammad Shagir Abdullah (cucunya) bahwa Syeikh Ahmad Telah menulis sekitar 160 kitab di samping banyak kitab yang ditashihnya. Karya tersebut ada yang berbahasa arab ada yang berbahasa Melayu. Ulama ini juga sebagai pencipta huruf Melayu baru, baik dalam bentuk karya ilmiah biasa (narasi, prosa) maupun dalam bentuk puisi (nadham / Syi’ir).
Kitab-kitab yang ditashihnya beberapa di antaranya juga dibubuhi dengan syair/nadham karangannya. Di antara kitab yang ditahqiq oleh Syeikh Ahmad adalah: I’anatut Thalibin (Karya Sayyid Abu Bakar Syatha); Al-Ajurumiyyah (Karya Imam Shanhaji); Nuzhatun Nadzhirin (Karya Ja’far Al-Barzanji); Al-Kharidatul Bahiyah (Karya Abdullah bin Usman Al-Makki); Ibitiz Al-Dawi fi Maulid As-Sayyid Al-Adawi (Karya Syeikh Nawawi Al-Bantani); Dalail Al-Kahyrat (Sayyid Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli); Tafsir Al-Qur’an Juz Amma (Muhammad Amin Bugis); Mukhtarush Shalah, Mukith Al-Mubith, kitab-kitab arya Syeikh Sulaiman Hasbullah dan karya lainnya. Sedangkan kitab berbahasa melayu yang ditahkik meliputi: Tafsir Baidlawi Tarjumanul Mustafid (Syeikh Abdurrauf As-Singkili); Shiratul Mustaqim (Syeikh Nuruddin Ar-Raniri); Ad-Durrun Nafis (Syeikh Nafis Al-Banjari); Sabilul Muhtadin dan Tuhfatur Raghibin (Syeikh Arsyad Al-Banjari); Siyarus Salikin (Syeikh Abdus Shamad Al-Falimbani); Ghayatut Taqrib, Minhajul Abidin, Furu’ul Masa’il, Ad-Durrus Samin, Kasyful Ghumam, Bughyatut Tullab, Warduz Zawahir (Sluruhnya 30 Kitab karya Syeikh Daud Al-Fathani); Tajul Muluk (Ismail Al-Asyi); Mathla’ul Badrain dan Al-Kambabud Dariri, Washakul Afrah (Syeikh Nik Mat Kecik Al-Fathani); Jauharul Mauhub (Syeikh Ali Kutan Al-Kalantani); Al-Mawahibul Makkiyah (Syeikh Abdul Qadir bin Abdurrahman Al-Fathani); Kasyful Ghaibiyah (Syeikh Zainal Abidin Al-Fathani); Mauridudh Dhaman (Syeikh Abdullah As-Syangquni) dan lain-lain.
Karya-karya Syeikh Wan Ahmad Al-Fathani sebagian berbahasa Arab dan sebagian berbebahasa Melayu. Karangannya dalam Bahasa Arab ada yang berbentuk karya ilmiah biasa ada pula yang berbentuk puisi (Nadham, Syair). Karangannya dalam karya ilmiah biasa meliputi: Sabilus Salam fi Syarhi Hidayatil Al-Awam (syarah kitab karya Syeikh Muhammad bin Sulaiman Abdullah, tentang ilmu tauhid, 1306 H / 1889 M); Ta’liqul Lathif Tasytamil alaihi Akwil lati Zaiy fihal Hakim (Fiqh); As-Syiyasatu wa Tadbir (Fiqih Siyasah); Ilmu Tashawuf; Syarh Matnis Sakhawi (Syarah Kitab Hisab dan Matematika karya Syeikh Abdul Qadir Asy-Syarqawi, 1304 H / 1886 M); Syarh Washilatit Thullab fi Ma’rifati A’malil laili wan Nahar (Syarah, Ilmu Falaq, 1305 H / 1887 M); Jadwal Mawqi’ Aqrabi Sa’at (Ilmu Falaq); Faidah Buruj Itsna ‘Asyara (Ilmu Falaq); Ilmu Hisab; Ilmu Falaqiyah; Ar-Rubu’ Al-Majaiyah (Ilmu Falaq); TAshilu Nailil Amani atau judul lain Tasrihul Ghawamil fi Syarhil Awamil (Nahwu, 1300 H / 1882 M); Abniyatul Asma’ wa Af’al (Nahwu); Ar-Risalatu Al-Fathaniyah (Nahwu, campuran), Matnu Dhammin wa Madkhal (Nahwu); Syarhu Matnir Risalatul Fathaniyah; Syarhu Tsimarus Sahiyah (Nahwu); Al-Ibrizush Sharfi (Sharaf 1317 H / 1899 M); Ilmul Isyti’arah (Ilmu Bayan, 1325 H / 1907 M); Tadrijush Shibyan (Ilmu Balaghah); Al-Luma’atun Nuraniyah wan Nafahatul Makhiyah (Tarikh Nabi Muhammad SAW). Karya-karya lainnya Khawashu Asma’il Husna; Misbahul Ghulam; Ghayatu Idrak fi Amal bi Kuratil Aflak (1313 H / 1895 M); Syarh Syarwani; Ad-Du’a wal Munajat dan Al-Fatwa Al-Fathaniyah (kumpulan fatwa dan pemikiran Syaikh Ahmad; untuk edisi Bahasa Arab) dan beberapa yang lain.
Karya Syaikh Ahmad Al-Fathani berbahasa Arab dalam bentuk puisi (nadham, sya’ir) antara lain: Jumanatut Tauhid (berisi ilmu tauhid 184 bait, Mesir 1293 H / 1876 M); Munjiyatul Awam li Manhajil Huda min Ad-Dhalam (Ilmu Tauhid, 102 bait, 1239 H / 1876 M); Mandumatut Tauhid wal Fiqhi wat Tashawwuf; Ats-Tsimaru Syahiyah, lengkapnya Ats-Tsimaru Syahiyah fi ma la Yathiqnal Mubtadi’una ‘anhu min Masa’ilin Nahwiyah (berisi ilmu nahwu, 99 bait, 1294 H / 1877 M); Mandhumatul Awamil (Ilmu Nahwu, 69 Bait, 1296 H / 1879 M); Mandhumatul Fathaniyyah; puisi untuk sultan Zainal Abidin (muridnya) 33 bait; puisi pengembaraan di Mesir (34 bait); puisi tentang ibnu Abbas (28 bait); puisi mengenal Thariqat Ahmadiyah / Idrisiyyah (36 bait); puisi Maulud Nabi Muhammad SAW (46 bait); puisi tentang Syaikh Muhammad bin Ismail Daudi Al-Fathani (26 bait); puisi silsilah ulama (57 bait); puisi mengenai rijalul ghaib Muhammad ibnu Arabi (28 bait); puisi mengenai ziyarah ke masjid Sayyid Ibrahim Ad-Dasuqi (18 bait); Puisi Ziyarah ke Masjid Aqsha (14 bait); puisi Maulid Nabi pada karya Syaikh Nawawi Al-Bantani (12 bait); puisi khataman Al-Qur’an dan Maulud (19 bait); puisi tawassul (13 bait); puisi hewan kura-kura (11 bait). Puisi-puisi lain pada kitab yang ditahqiq olehnya seperti Hidayatus Salikin (11 bait); Sabilul Muhtadin (16 bait); Mawahib Al-Makkiyah (11 bait); Al-Kaukab Ad-Daury (12 bait); Al-Jauhar Al-Mauhub (27 bait); Mauridudh Dhaman (23 bait); I’anatut Thalibin (17 bait); Nudhah An-Nadhirin (10 bait); Bajuirii (13 bait); Kitab Iqna’ (23 bait). Ada pula puisi tentang Ilmu waqaf.
Karya-karya Syaikh Ahmad Al-Fathani dalam bahasa Melayu menggunakan huruf Arab Melayu baru yang dipopulerkannya. Karyanya ada yang berupa kitab, ada pula yang berupa kumpulan puisi (nadham, syair). Karyanya yang berupa kitab antara lain: Iqdul Juman Fi Ilmil Aqaid (Ilmu Tauhid, 6 Muharram 1306 H / 13 September 1888); Sa’adatul Mutanabbih fil Maut wa ma Yata’allaqu bih (Ilmu Tauhid, 29 Rajab 1306 H / 1 April 1889); Faridatul Faraid fi Ilmil Aqaid (Ilmu Tauhid, 29 Rajab 1313 H / 1885 M); Aqidatu Ushuluddin (Ilmu Tauhid, 1321 H / 1904 M); fatwa puasa dengan hisab taqwim dan ru’yah (Ilmu Falaq, 1307 H / 1889 M); Hadiqatul Azhar war Rayahin (15 Sya’ban 1307 H / 6 April 1890 M). Berisi tentang nasihat dan pemikiran Syaikh Ahmad terhadap kemajuan bangsa Melayu masa mendatang. Meliputi masalah politik, ekonomi, sosial budaya, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan dan lain-lain.
Karya lainnya: Bahjatul Mubtadiin wa Farhatul Mujtahidin (1310 H / 1892 M); Al-Fatawa Al-Fathaniyyah (kumpulan fatwa dan taushiyah dalam bahasa Melayu. Tuhfatul Ummah ‘ala Nabiyyiha Nabiyyurrahmah (Akhlaq, 1310 H / 1892 M); Tarikh Turki Usmani (Sejarah Islam, 1303 H / 1886 M); Sejarah Lampung Pecah; Sejarah Patani Melawan Siam (Sejarah); Thayyibil Ihsan fi Tibbil Insan (Pengobatan, 1312 H / 1895 M); Luqthah Al-Ajlan Mimma Tamassa Ilaihi Hajatul Insan (1301 H / 1884 M); Bisyaratul ‘Alamin wa Nazratul Ghafilin (1304 H / 1887 M); Unwanul Falah wa Unfuwanul Falah (1319 H / 1902 M); Mir’atul Aja’ib fi Jawabi Su-alil Majazib (1324 H / 1906 M). An-Nuzul Mubin, Risalah Doa-doa. Dan beberapa yang lain.
Karya Syaikh Ahmad Al-Fathani dalam bahasa Melayu berbentuk puisi (nadham / syair) atau kumpulan puisi antara lain: Puisi Shufi (28 bait, 1324 H / 1906 M); Nadham Nuril Anam (Terdiri dari 500 bait, 1287 H/1870 M ketika ia baru berusia 14 tahun); puisi pada kitab yang ia tashih seperti pada kitab Hidayatus Salikin (21 bait); Furu’ Al-Masail (13 bait); Syarah Hikam Melayu (8 bait); Kasyful Lisan (19 bait, 1301 H/1884 M).
Syaikh Ahmad Al-Fathani sangat memperhatikan nasib bangsa Melayu dan mengharapkan agar negara-negara Melayu (Al-Jawi, Nusantara) merdeka dari cengkraman penjajah (walaupun patani sendiri sampai saat ini tahun 2017 masih bergolak). Baik melalui tulisan-tulisannya seprti di muka, maupun gerakan / organisasi yang dipromotorinya seperti: 1) Jam’iyyah Fathaniyah (untuk mengembalikan Daulah Fathaniyyah Darussalam); 2) Jam’iyyah Rusydiyah (Rusydiyah Kelab) untuk Riau-Lingga atau Jam’iyyah Riawiyyah; Jam’iyyah Al-Khairiyah (kebnyakan anggotanya adalah keturunan Diraja Riau Lingga. Ulama ini selalu meniupkan nasionalisme di kalangan murid-muridnya dalam arti Bangsa Melayu pada umumnya.
Syaikh Ahmad Al-Fathani sebagai ulama besar banyak mendapatkan gelar dan pujian baik dari ulama-ulama semasa maupun sesudahnya, termasuk guru-guru utamanya. Gelar-gelar tersebut jika disebutkan adalah: Al-Fithan; An-Nahrir; Adz-Dzaki; Al-Labib; Ats-Tsaqaf; Al-Laqin; An-Najib; Al-Audza’i; Al-Arib; An-Nabil; Al-Maladz; Al-Ma’iy; Ad-Dzakar; Al-Alim Allamah Al-Fathanah; Al-Fahil; Al-Adib; Ustadz Al-Kamil. Di lingkungan murid Melayu menggelari dengan Sibawaih Saghir (Sibawaih Kecil) atau Tuan Ngawamil (Tuan Awamil) karena keahliannya ilmu nahwu. Gelar Tuan Guru Wan Ngah juga diberikan kepadanya karena sangat disiplin. Seorang orientalis Dr. C. Snouk Hourghrounje dalam bukunya: Mecca in The Letter Part of nineteenth Century menyebut Syaikh Ahmad sebagai A Savan of Merit dan A Great Savanit. Artinya Sarjana Agung (Sarjana Ulung).
Syaikh Wan Ahmad Al-Fathani meninggal dalam usia setengah baya, 53 tahun menurut tahun hijriyah atau 51 tahun 9 bulan menurut tahun masehi. Beliau wafat ketika menunaikan ibadah haji tepatnya di Madinah. Tanggal 11 Dzulhijjah 1325 H / 14 Januari 1908 M. Persis seminggu kemudian ayahandanya, yakni Syaikh Muhammad Zain Al-Fathani wafat pula.
Dalam kehidupan keluarga syaikh Ahmad menikah pertama dengan Hj. Wan Kultsum binti Wan H. Ismail. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai putra TGH Ismail Al-Jambui dan Hj. Wan Fathimah.
Setelah istrinya wafat kemudian Syaikh Ahmad menikah lagi dengan Hj. Wan Sandah binti TGH Abdullah Al-Fathani. Dari pernikahan ini ia dikaruniai anak yakni Hj. Wan Zainab, sedangkan ketiga adiknya (Nafisah, Muhammad Shalih, Muhammad Nur) meninggal saat kecil. Ketika putra putrinya itu sudah besar kesemuanya meneruskan perjuangan Syaikh Ahmad dari lingkungan keluarga.
Syaikh Ahmad di samping mewariskan kepada ummat berupa kitab-kitab hasil karyanya yang tetap dibaca kaum muslimin hingga sekarang, juga murid-muridnya yang tersebar di berbagai belahan dunia Islam.
fulltext: download di sini!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar