Pendahuluan:
Semenjak dahulu telah terdapat kebiasaan di dalam kalangan ummat Islam Ahlussunnah wal Jammah untuk mengirimkan doa dan pahal dari apa yang dibaca dan amalan baik yang dilakukan seseorang kepada orang yang sudah meninggal. Bacaan tersebut bisa berupa dzikir, do’a, maupun ayat-ayat Al-Qur’an. Biasanya, jika merupakan ayat Al-Qur’an maka yang dibaca biasanya adalah surah Al-Fatihah, surah Yasin maupun surah yang lain.
Di sisi lain, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apakah pahala dari amalan dan bacaan (Al-Qur’an dan, atau dzikir) itu bisa sampai kepada orang yang telah meninggal atau tidak.
Berikut ini akan dijelaskan berbagai pendapat tersebut dari Imam madzhab 4 (empat) yaitu: Imam Abu Hanifah An-Nu’man; Imam Malik bin Anas; Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i; dan Imam Ahmad bin Hanbal. Pendapat ini kami ambil dari dua kitab yang membahas tentang perbandingan Madzhab yaitu: (1) Al-Mizan Al-Kubro karya Imam As-Sya’rani; dan (2) Rahmah Al-Ummah karya Ad-Dimasyqi. Berikut penjelasan dalam kedua kitab ini:
(1) Penjelasan Imam As-Sya’rani
Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal menyatakan mustahab (baik) membaca Al-Qur’an di sisi pemakaman (kuburan). Terkecuali Imam Abu Hanifah yang mengatakan mustahab (baik) dibacakan Al-Quran di kuburan Abu Hanifah mengatakan makruh.
Namun demikian, berbeda dari pendapat ketiga imam lainnya, Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa pahala bacaan Al-Qur’an yang dibacakan itu tidak sampai kepada orang yang mati. Sedangkan imam yang lain (Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal) mengatakan bahwa pahala membaca Al-Qur’an dapat sampai kepada orang yang wafat.
Dikatakan di dalam kitab Al-Mizan Al-Kubra juz 1 halaman 228, yang ditulis oleh Imam As-Sya’rani sebagai berikut:
ومن ذلك قول الأئمة الثلاثة باستحباب القراءة للقرآن عند القبر مع قول أبى حنيفة بكراهتها فالأول مخفف والثانى مشدد. ووجه الأول أن القراءة عند القبر سبب لإنزال الرحمة على المييت ووجه الثانى أن ذلك امتهانا للقرآن نظير ما ورد من النهي عن الصلاة فى المقبرة والخلاف فى وصول ثواب القرآن للميت أو عدم وصوله مشهور ولكل منها وجه ومذهب أهل السنة أن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره وبه قال أحمد بن حنبل.
(2) Penjelasan Imam Ad-Dimasyqi
Ijma’ semua madzhab bahwa istighfar, doa, shadaqah, haji, pahalanya sampai kepada mayat. Adapun mengenai pembacaan Al-Qur’an hanya imam Syafii saja yang berbeda. Di mana pendapat imam Syafi’i yang masyhur (terkenal) adalah tidak sampai.
Dijelaskan oleh Ad-Dimasyqi di dalam kitab kitab Rahmatul Ummah fi ikhtilafi al-Ummah Juz 1 hlm: 90 sebagai berikut:
(فصل) وأجمعوا على أن الإستغفار والدعاء والصدقة والحج والعتق تنفع الميت ويصل إليه ثوابه وقراءة القرآن عند القبر مستحبة وكرهها أبو حنيفة ومذهب أهل السنة أن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره لحديث الخثعمية والمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل إلى الميت ثواب القراءة قال ابن صلاح من أئمة الشافعية فى إهداء القرآن خلاف للفقهاء والذى عليه أكثر الناس تجويز ذلك وينبغي إذا أراد ذلك أن يقول: (اللهم أوصل ثواب ما قرأته لفلان) فيجعله دعاء. ولا خلاف فى نفع الدعاء ووصوله وأهل الخير قد وجدوا البركة فى مواصلة الأموات بالقرآن والدعوات قال ... الطبرى من متأخرى مشايخ الشافعية وأما قراءة القرآن عند القبر فقال البحر هي مستحبة وفى الحاوى الجزم بوقوع القراءة له والحالة هذه كالدعاء لأنهم جوزوا الإستغفار عليه واختاره النووى فى الروضة ومذهب أحمد ثواب القراءة يصل إلى الميت ويحصل له نفعه.
والله أعلم
Catatan:
Dalam kitab fiqih, jika ada kata-kata “as-sahih” (artinya yang benar), maka hal itu menunjukkan ada perbedaan pendapat. Namun pendapat yang dikatakan dengan “as-sahih” itulah yang diambil oleh penulis kitab tersebut. demikian pula jika ada kata “al-masyhur” (artinya yang populer), berarti terdapat pendapat lain dari ulama yang sama tapi tidak populer. Tapi bukan berarti tidak ada. Contoh kasus masalah yang terakhir ni adalah pada teks dari kitab Rahmah Al-Ummah sebagaimana dikutip di atas.
Jikalau kita sajikan berbagai pendapat di atas dalam suatu pemetaan maka akan kita lihat sebagai berikut ini:
Wallahu a’lam.
Malang, 16 Dzulqa’dah 1441 H / 7 Juli 2020


Tidak ada komentar:
Posting Komentar