Sabtu, 03 Februari 2018

Dinamika Kehidupan Beragama Kita

Oleh: R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd
(kholis3186@gmail.com; 085736023155)



Di dalam dunia pesantren sejak dahulu, seorang santri tidak hanya diajarkan keilmuan pada otaknya. Namun juga diajarkan tentang keteladanan dan kebijakan hidup. Keteladanan budi yang begitu luhur itu, tidak hanya dari segi keilmuan saja, melainkan juga terutam dari segi keluhuran sikap dan moral.
Di Pesantren, seorang santri diajarkan untuk saling menghormati pendapat. Kesamaan hak dan kewajiban, juga... yang paling terasa... (setidaknya bagi saya) adalah jiwa kebersahajaan, yang tercermin dalam apa yang dinamakan sikap zuhud.
Oleh karenanya maka tidak heran jika di masa dahulu, seorang santri sangat besar jiwa nya untuk saling menerima perbedaan. Jika tidak setuju yang jangan ikut, tapi tidak boleh menghina.
Seperti halnya saat ada seorang Gus (putra kiai) yang nyeleneh, umpama tidak melaksanakan shalat, dan lain sebagainya hal-hal yang menyeleweng dari Syariat. Para santri tidak akan ikut-ikut jejak sang Gus itu tadi. 
Namun sedemikian hormatnya ia pada sang gus, sebagai seorang putra Kiai yang telah memberikan ia (para santri) ilmu. Tetap sangat menaruh hormat, meskipun sekedar menatakan sandalnya di rumah. Demikianlah... yang tak cocok jangan ditiru. Tapi penghormatan tetap harus dijaga.
Jikalah toh seorang kiai berbuat hal-hal (yang setidaknya dalam pandangan kita) menyeleweng dari syariat, dan ia bukanlah Kiai yang kita belajar kepadanya. Paling buruknya adalah bertanya alasan-alasannya. Ini dinamakan Tabayyun. (Orang barat saja, meletakkan Tabayyun ini sedemikian pentingnya sampai ditaruh dalam metodologi penelitian).
***

Di masa sekarang, dimana teknologi informasi telah mencapai puncaknya, informas saat ini bisa sampai saat ini pula pada waktu yang sama. Seperti siaran langsung di TV dan FB. Budaya beragama kita telah berubah dari hal-hal yang penulis paparkan di atas itu. Rasa hormat kepada ulama pewaris Nabi sudah makin terkikis. Dikalahkan pada ego: "Karena tak sama pendapatnya dengan kita." 
Jangankan lagi seorang santri atau gus.... seorang Kiai Masyhur dan besar saja. Yang mondoknya sudah ke mana-mana bisa dibully mati-matian.... 
Parahnya lagi, karena kabar itu hanya diperoleh dari apa yang kita sebut "Media Sosial." Sebuah media yang menghubungkan kita hampir tanpa penyaringan dan tedeng aling-aling.
Sebegitu bergeserkah cara beragama kita saat ini? Sebegitu muliakah Google dan FB ini... sebegitu besarkan jasa-jasa media-media itu sehingga mengalahkan penghormatan kita pada pendapat Ulama.???

Malang, 26/12/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar