Dalam suatu kesempatan pengajian yang diselenggarakan di Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyah, Kiai Marzuqi Mustamar dari Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek bercerita tentang gurunya Kiai Masduqie Mahfudz.
Dahulu kiai masduqi mahfudz pernah berdiskusi dengan seorang kiai dari Gondanglegi Kabupaten Malang. Sebuah kecamatan di Kabupaten Malang yang dikenal dengan kecamatan santri karena di hampir seluruh desanya bertebaran pondok pesantren dan santrinya sampai ribuan.
Diskusi ini berkaitan dengan hukum shalawatan yang diiringi musik menggunakan seruling, gitar dan dram. Singakat cerita, sang kiai dari Gondanglegi itu tidak bisa menerima bahwa ada sekelompok orang yang shalawatan sambil ditabuhi dram dan alat musik modern seperti gitar dan organt.
"Kurang ajar, shalawat kok ditabuhi.... ndak sopan sama kanjeng nabi." Begitulah kira-kira kata sang kiai berdasarkan cerita Kiai Marzuqi.
Ketika itu, Kiai Masduqi Mahfudz sedang menerima undangan dari sahabatnya itu.
Beberapa waktu kemudian, Kiai Masduqi Mahfud bergantian mengundang sang kiai tersebut dalam suatu acara. Dalam acara tersebut ditampilkan juga pentas shalawat yang juga diiringi alat musik modern. Para pemainnya pun juga orang-orang kampung yang (konon) suka nongkrong dan main gitar di pinggir jalan.
Ketika sang kiai datang, Kiai Masaduqi Mahfud mengatakan kepada sahabatnya itu:
"Kiai, ini bukan shalawatan yang ditabuhi (diiringi musik), tapi tabuhan (musik) yang dishalawati." Katanya...
Akhirnya, Kiai sahabat beliaupun paham.
Kiai Marzuqi sebagai santri ketika itu kabarnya juga sempat menanyakan kepada Kiai Masduqi mengenai, mengapakah sang guru setuju shalawatan diiringi musik?
Kiai Masduqi ketika itu menjawab:
"Kalau untuk masyarakat awam yang tidak mengaji, ya tidak apa-apa, daripada nyanyi ndak karuan. Lebih baik musikan sambil shalawatan. Tapi bagi santri yang mengerti saya pakai hukum yang haram."
Disinilah, letak kekaguman saya kepada Kiai Masduqi ini. Beliau terkenal wara' dalam banyak sisi kehidupannya. Sampai-sampai beliau sudi jadi supir angkot untuk mwnopang kehisupannya meskipun sudah menjadi dosen di STAIN Malang (sekarang UIN Maliki). Namun ia begitu luwes dalam berdakwah kepada masyarakst kecil dan awam.
Mungkin tanpa disadari dirinya, ia telah menggunakan pertimbangan sosiologis dalam membawakan Islam ke jantung hati masyarakat. Sampai-sampai masyarakat menjadi simpati dalam hati mereka yang murni kepadanya.
Buktinya, pada hari kewafatannya, puluhan ribu pelayat memenuhi masjid jami' kota malang dan alun alunnya (dari sisi barat sampai ke timur, dari sisi utara ke selatan) untuk menshalati jenazahnya. Semua itu sebagai penghormatan terakhir. Dan wujud kecintaan masyarakat kepada kiai Marzuqi.
Kepada beliau, Alfatihah.
Malang, 19 Agustus 2020
R. Ahmad Nur Kholis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar