Rabu, 23 September 2026

Pembelajaran Yang Melekat Berkesan



Teori tabularasa (empirisme) dalam pendidikan yang dipelopori oleh John Locke, mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah seperti lembaran putih yang kosong dan bersih. Dan setiap kegiatan pendidikan dan pengalaman hidup seseorang memberikan coretan atau lukisan terhadap lembaran itu. Maka pengalaman yang baik akan menjadi lukisan yang baik bagi seseorang, demikian pula sebaliknya.

Dalam konsep teori belajar sosial (social learning theory), atau teori identifikasi maupun teori perkembangan sosial dijelaskan bahwasanya seorang anak itu akan mengidentifikasi orang dewasa yang paling berkesan dalam hatinya. Seorang guru pada dasarnya adalah seseorang yang selayaknya memberikan teladan yang baik agari diidentifikasi oleh anak didiknya. Oleh karena perilaku pendidik itu akan ditiru dan diinternalisasi oleh anak didik nya.

Hal inilah kiranya apa yang saya rasakan ketika saya mengajar materi fiqih dan Aqidah Akhlaq pada murid-murid saya di madrasah tsanawiyah. Ketika suatu saat saya mengajarkan suatu konsep dalam kedua pelajaran tersebut. Mereka pertama-tama saya jelaskan tentang konsep definisi. Saya jelaskan bahwa ada 2 (dua) macam definisi atau pengertian. Yang pertama adalah definisi secara bahasa (etimologi/kamus), dan yang kedua adalah definisi istilah (terminologi). Saya memberikan ciri-ciri definisi tersebut secara sederhana. Saya menjelaskan:

“Definisi itu ada dua macam, ada definisi secara bahasa, ada definisi secara istilah. Ciri-ciri kalimat yang mengandung definisi biasanya terdapat kata “adalah”.”

“Jika kalimatnya mengatakan ‘secara bahasa….’ itu berarti definisi secara bahasa. Jika kalimatnya menyatakan ‘secara istilah’ atau ‘secara terminologi….’ itu berarti definisi secara istilah.”

Kemudian, mereka saya minta untuk membaca di LKS (Lembar Kerja Siswa), dan mencari kalimat-kalimat yang mengandung definisi, yakni yang mengandung kata ‘adalah’ atau kata: ‘secara bahasa’ atau ‘secara istilah’. Maka mulailah mereka mencari sebanyak-banyaknya.

Saya merasa senang mereka disibukkan dengan membaca….

Tapi, yang sangat berkesan di hati saya adalah bahwa setelah pembelajaran tersebut, mereka setiap bertemu dengan saya, atau menyapa atau bertanya sesuatu, mereka serempak berkata:

“Secara bahasa….”

Biasanya saya tersenyum-senyum melihat dan mendengarnya….

Rupanya, pembelajaran saya berkesan di hati mereka.




Malang, 23 September 2026



R. Ahmad Nur Kholis, M.Pd

Seorang Guru di Malang; Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar